Sosialisasi Gapura Lar Badak dan Umbul-Umbul Podhang Ngisep Sari di Kalurahan Ngestirejo

09-Jun-2021   Dibaca :  473 kali

 

Tanjungsari, Gapura Lar Badak merupakan ciri khas atau identitas dari suatu daerah khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan pada jaman dahulu merupakan penanda pintu masuk daerah Keraton Yogyakarta. Begitu juga Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari merupakan ciri khas dari Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya Kabupaten Gunungkidul. Pendirian Gapura Lar Badak juga pemasangan Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya khas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sosialisasi Gapura Lar Badak dan Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul dilaksanakan di Kalurahan Ngestirejo pada tanggal 7 Juni 2021 dan dihadiri oleh Dewan Kebudayaan serta Perangkat Kalurahan. Kegiatan ini dibiayai dengan Dana Keistimewaan DIY tahun 2021. Acara dibuka melalui sambutan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Bapak Agus Kamtono. Kemudian acara dilanjutkan dengan paparan Gapura Lar Badak dan Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari dari Bapak CB Supriyanto selaku Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. Beliau menjelaskan bahwa istilah Lar/ elar diambil dari sayap burung, sedangkan badak merupakan binatang berukuran besar dan kuat. Sayap burung berjumlah 2 (dua) dan badak memiliki kekuatan yang luar biasa, maka dalam penerapannya sayap itu posisinya di samping kiri dan kanan pintu masuk/ keluar gapura. Maka disebutlah Gapura Elar/Lar Badak hingga saat ini. Konon merupakan wujud dari pesan moral Keraton Yogyakarta yang dimunculkan pada lambang/ simbol. Gapura Lar Badak sendiri terdiri dari bagian atas gapura yang disebut dengan bunga melati dan kelopak bunga melati, segi empat tiang gapura, lengkung gapura, tiang gapura, lubang tiang gapura dan landasan gapura. Bunga melati pada puncak tiang Gapura melambangkan kesucian, kejujuran, kemurnian, kebersihan, ketulusan, keharuman, dan bisa memberikan ketenangan. Bunga melati dengan kelopak berjumlah 5buah melambangkan mekarnya tunas muda berkualitas melalui pendidikan TK-SD-SMP-SMA-Perguruan Tinggi dengan senantiasa memegang teguh Pancasila (Yogyakarta sebagai kota pendidikan). Segi empat pada tiang gapura yang berjumlah dua buah, baik tiang yang tinggi maupun tiang rendah. Pada tiang tinggi berjumlah tiga tingkatan/ trap melambangkan Cipta (pikiran yang jernih), Rasa (hati yang tulus), Karsa (tekad yang bulat) (Yogyakarta sebagai kota budaya). Kemudian antara tiang gapura yang rendah menuju tiang gapura yang tinggi ada lengkungan ke atas membentang baik pada sisi kanan maupun sisi kiri (melambangkan cita-cita yang luhur dan mulia dengan menunjukkan keterbukaan). Tiang Gapura Lar Badak berbentuk tegak lurus dimana satu sisinya lebih tinggi dan sisi lainnya lebih rendah, melambangkan pemimpin yang tegas dan bisa mengayomi dan menjadi panutan. Kemudian terdapat lubang-lubang yang berjumlah tujuh diantara tiang yang tinggi dan lebih rendah, melambangkan tujuan dapat tercapai dengan semangat gotong-royong dan keterbukaan. Landasan dasar bangunan gapura yang terbelah menjadi dua sayap bagai sayap burung melambangkan kekuatan masyarakat meskipun dipisahkan tetapi tetap menyatu dengan pemimpinnya. Gapura Lar Badak sebenarnya sudah memasyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Kabupaten Gunungkidul, baik yang dibangun atas prakarsa masyarakat maupun pemerintah. Dari berbagai jenis gapura yang ada saat ini, jenis Gapura Lar Badak kiranya lebih tepat untuk dipakai sebagai ciri khas Kabupaten Gunungkidul.

Selanjutnya Bapak CB Supriyanto menjelaskan tentang filosofi Pembangunan Podhang Ngisep Sari. Podhang Ngisep Sari berarti burung kepodhang (berwarna kuning cerah) yang menghisap sari dari bunga. Podhang Ngisep Sari memiliki makna yang sangat mendalam bagi Kabupaten Gunungkidul, karena mengandung pengertian menghisap/mengelola potensi alam baik berupa tumbuh-tumbuhan, bukit, goa, pantai, batu-batuan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Gunungkidul tentu dengan tidak merusak lingkungan, bahkan saling menguntungkan.  Maka Podhang Ngisep Sari kemudian dijadikan simbol yang diambil dari alam. Semua wilayah memiliki lambang/simbol masing-masing yang digali dari alam. Tentu semua tidak terlepas dari keberadaan Keraton Yogyakarta, yang kemudian diformalkan untuk semua Kabupaten dan Kota se-DIY. Hanya saja di Kabupaten Gunungkidul dimasyarakatkan sekitar tahun 90-an, melalui pemasangan Umbul-umbul Podhang Ngisep Sari yang berwarna merah dan kuning.

Acara selanjutnya adalah paparan dari Bapak Panewu Tanjungsari, Bapak Rakhmadian Wijayanto, AP.M.Si. Beliau memberikan pemaparan terkait kekayaan budaya yang dimiliki Kapanewon Tanjungsari, seperti budaya rasulan, kirab budaya, nyadran, larungan, ketoprak, wayang kulit, jathilan dan karawitan. Berbagai kekayaan budaya yang dimiliki tentu harus dilestarikan dengan baik dengan tetap menjaga budaya tersebut serta mengenalkan budaya tersebut kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Generasi muda sebagai generasi penerus harus mau mempelajari kebudayaan yang ada serta aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pelestarian budaya.  (Jalu)

 

Berita Terbaru


PANEWU TANJUNGSARI MELEPAS SECARA RESMI KOORDINATOR PLKB, PD, DAN PLD YANG PINDAH TUGAS

Tanjungsari_Ibu. Sri Intiyastuti, SE, MPA, Panewu Tanjungsari bersama jajaran karyawan / karyawati

PANEWU TANJUNGSARI PIMPIN KEGIATAN GOTONG ROYONG DI PADUKUHAN PANGGANG KALURAHAN KEMIRI

Tanjungsari_Ibu. Sri Intiyastuti, SE, MPA, Panewu Tanjungsari pada hari Sabtu (25/4/2026) memimpin

BUPATI GUNUNGKIDUL MENCANANGKAN GERAKAN GOTONG ROYONG DI WILAYAH KAPANEWON TANJUNGSARI

Tanjungsari - Bupati Gunungkidul, Ibu. Endah Subekti Kuntariningsih,SE,MP, pada hari Rabu


Download